Kesehatan

UK Keluarkan Izin Penggunaan Dexamethasone Dipercaya Mampu Turunkan Angka Kematian Akibat Covid-19

Tim penelitian di Inggris telah menemukan bahwa steroid yang murah dan beredar luas di pasaran, Dexamethasone (atau Deksametason), menunjukkan hasil yang memuaskan dalam meningkatkan angka keselamatan pasien Covid 19. Dexamethasone, steroid umum yang biasanya digunakan untuk mengatasi inflamasi, disebut mampu menekan kematian hingga 1/3 dalam sebuah studi dengan 6000 pasien kondisi parah. Lebih dari 2100 pasien menerima obat tersebut.

Pemerintah Inggris pun telah mengizinkan penggunaan Dexamethasone untuk pasien Covid 19. Namun, belum diketahui pasti seberapa bermanfaatnya Dexamethasone bagi pasien dengan gejala yang lebih rungan. Selain itu, hasil studi tersebut juga belum ditinjau sejawat atau direplikasi dalam studi lain.

"Ini adalah bentuk peningkatan signifikan dalam pilihan terapi yang kita miliki," kata Dr. Anthony Fauci, pakar penyakit menular top Amerika Serikat. Dilansir USA Today, inilah hal hal yang perlu diketahui mengenai Dexamethasone. Deksametason adalah obat antiinflamasi dan pembengkakan yang umum digunakan untuk berbagai kondisi, kata Dr. Onyema Ogbuagu, seorang dokter penyakit menular dan profesor kedokteran di Yale.

Deksametason Biasanya diresepkan dengan bentuk steroid oral atau intravena. Dexamethasone ini unik, kata Ogbuagu, karena mengandung glukokortikoid. Robert Glatter, seorang dokter darurat di Rumah Sakit Lenox Hill Kota New York City, mengatakan deksametason juga memiliki paruh hingga 54 jam.

Hal itu dapat membantu memastikan tingkat pengobatan terapeutik untuk mengobati peradangan yang berkelanjutan. Seperti steroid lain, Dexamethasone adalah perawatan non spesifik yang tidak harus menargetkan satu jalur spesifik peradangan atau pembengkakan, kata Ogbuagu. Dexamethasone pun memiliki kekurangannya.

Secara umum, COVID 19 muncul dalam dua fase, jelas Ogbuagu. "Orang orang terinfeksi virus, lalu virus itu mereplikasi, dan itulah fase pertama dari Covid 19," katanya. "Setelah itu, sekitar 10 hari setelah infeksi, orang orang mulai memproduksi antibodi dan reaksi peradangan terhadap virus."

Bahan kimia inflamasi ini kadang kadang dapat menciptakan komplikasi COVID 19 yang parah, seperti sindrom gangguan pernapasan akut, yang menyulitkan oksigen untuk memasuki aliran darah dan mencapai organ. Pasien dengan komplikasi COVID 19 yang parah mendapatkan manfaat signifikan dengan deksametason dalam studi di Inggris. Pasien pasien tersebut meminumnya selama 10 hari, baik secara oral atau melalui infus.

Setelah satu bulan, angka kematian berkurang 35% pada pasien yang membutuhkan perawatan dengan mesin pernapasan dan 20% pada mereka yang membutuhkan oksigen tambahan. Namun, deksametason nampaknya tidak terlalu berdampak signifikan kepada pasien yang sakit ringan. Beberapa penelitian, kata Ogbuagu, juga telah menyarankan bahwa steroid seperti deksametason sangat membantu dalam meningkatkan angka kematian di antara orang orang dengan ARDS.

Ogbuagu menilai bahwa waktu dan selektivitas di antara pasien sangat penting untuk memastikan deksametason digunakan dengan benar sebagai pengobatan untuk COVID 19. Temuan awal menyebut bahwa pasien COVID 19 yang tidak memiliki gejala parah, seperti harus membutuhkan respirator, tidak boleh menggunakan deksametason. "Kelemahan dari steroid adalah tidak selektif," kata Ogbuagu.

"Steroid bagaikan pedang bermata dua yang dapat menghalangi kemampuan tubuhmu untuk melawan virus." Ogbuagu mencatat bahwa beberapa penelitian telah menemukan tingkat kematian yang lebih tinggi pada orang yang menggunakan steroid, karena mereka menghambat respon kekebalan tubuh terhadap virus. Organisasi Kesehatan Dunia dan organisasi organisasi lain menyarankan agar tidak menggunakan steroid lebih dini karena dapat menghalangi pembersihan virus.

Ogbuagu juga mengatakan bahwa steroid, secara umum, dapat menyebabkan beberapa efek samping yang parah, seperti diabetes atau memperburuk diabetes, serta psikosis atau gangguan emosional. Administrasi Makanan dan Obat obatan A.S. (FDA) mencabut izin penggunaan hydroxychloroquine, obat anti malaria kontroversial yang sempat dipromosikan oleh Presiden Donald Trump. FDA mengatakan dalam surat keputusan itu didasarkan pada bukti baru yang membuatnya tidak percaya bahwa hydroxychloroquine dan chloroquine "mungkin efektif dalam mendiagnosis, mengobati atau mencegah" COVID 19.

Mengutip laporan komplikasi jantung, FDA mengatakan obat obatan itu malah menimbulkan risiko lebih besar bagi pasien daripada manfaat kesembuhannya.

Berita Terkait

Hyperhidrosis hingga Obesitas Stres 5 Tanda Tubuhmu Terserang Penyakit melalui Keringat

Nurofia Fauziah

Mulai dari Cotton Bud hingga Obat Tetes Cara Bersihkan Kotoran Telinga Berikut Ternyata Salah

Nurofia Fauziah

Tak Hanya Enak Disayur, Kacang Panjang Simpan Banyak Manfaat, Cegah Diabet Hingga Kanker

Nurofia Fauziah

Usai Operasi, Dorce dan Rano Karno Jauhi Santan, Ungkap Faktanya untuk Kesehatan, Baik atau Buruk?

Nurofia Fauziah

VIRAL Pria Gunakan Bra sebagai Pengganti Masker Pelindung dari Kabut Asap, Masker Apa yang Tepat?

Nurofia Fauziah

Bisa Bantu Turunkan Berat Badan 5 Manfaat Biji Buah Mangga buat Kesehatan

Nurofia Fauziah

Mengetahui Gejala Penyakit Jantung Sejak Dini

Nurofia Fauziah

Jamurnya Bisa Menyebar menuju Rahim Jangan Anggap Enteng Keputihan & Bau Tidak Sedap di Bagian Miss V

Nurofia Fauziah

Mendadak Sakit Kepala Tak Melulu Minum Obat Solusinya, Cobalah Nikmati Secangkir Kopi

Nurofia Fauziah

Jangan Pergi dari Rumah & Lama Durasi Isolasi Sendiri 4 Hal Wajib Diketahui Tentang Self Isolation

Nurofia Fauziah

Januari 2020 Ribuan Pengidap HIV/AIDS Bakal Putus obat ‎Stok Obat ARV Menipis

Nurofia Fauziah

Remaja ini Jadi Buta dan Tuli, Sejak SD Hanya Mau Makan Frozen Food dan Snack Kemasan

Nurofia Fauziah

Leave a Comment