Kesehatan

Penjelasan Ahli Jawab Pertanyaan Kapan Pandemi Virus Corona Bakal Berakhir

Pandemik virus corona atau Covid 19 telah menyebar ke banyak negara di Dunia. Berdasarkan data terakhir yang dikutip dari Worldometers, ada 198 negara yang telah menyatakan adanya kasus terkait virus corona. Angka kasusnya tercatat 467.520 kasus yang sudah terkonfirmasi, dengan 21.174 orang meninggal dunia, dan 113.808 pasien sembuh.

Sebaran virus corona ini memaksa banyak negara menerapkan kebijiakan lockdown untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Interaksi antarsesama pun dibatasi dengan keras, Memaksa orang untuk tetap berada di rumah, pembubaran massa yang berkerumun di jalan jalan hingga penutupanfasilitas umum.

Peristiwa ini tentu belum pernah terjadi sebelumnya dalam krisis kesehatan global. Sehingga, banyak yang bertanya tanya sampai kapan krisis kesehatan global ini akan berakhir. Melansir Kompas.com, para ahli kesehatan jauh lebih waspada.

Sebab, melonggarkan aturan pembatasan demi mengurangi dampak ekonomi dan sosial dapat berisiko pada gelombang kedua kasus virus corona. "Kita berada di masa lockdown untuk jangka panjang, setidaknya satu atau dua bulan lagi," kata Eric Feigl Ding, ekonom kesehatan global di Harvard Chan School of Public Health, kepada CNBC Capital Connection hari Senin. "Virus ini tidak akan hilang dalam tiga minggu ke depan, tidak peduli bagaimana kita ingin membandingkan dengan Wuhan," kata Feigl Ding, merujuk pada kasus kasus virus corona di AS.

"Ini bukan Wuhan, kita tidak bisa mengalihkan seperempat dokter dan perawat dari bagian lain negara untuk datang ke satu pusat pandemi seperti yang dilakukan Cina. Jadi, sekali lagi, kita berada di masa ini setidaknya selama dua bulan atau lebih." Ia mengatakan, mungkin vaksin bisa tersedia lebih cepat dari 12 bulan jika ilmuwan bisa berhasil melewati tahapan ujicoba dan memberikannya kepada banyak orang dengan cepat. Sejak muncul dari Wuhan, China pada akhir 2019, virus corona telah menyebar ke 190 negara.

Hingga saat ini, virus telah menginfeksi lebih dari 390.000 orang secara global, menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University, dengan angka kematian 17.156 orang. Wabah tersebut telah diakui sebagai pandemi oleh WHO, dan badan kesehatan PBB berulang kali menggarisbawahi pentingnya setiap negara memberlakukan tindakan kesehatan masyarakat yang luas. "Saya tidak bisa melihat tiba tiba minggu depan atau dua minggu dari sekarang semua ini akan berakhir. Saya kira tidak ada peluang untuk itu." Demikian kata Dr. Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease, dalam sebuah wawancara di acara NBC "TODAY" akhir pekan lalu.

Saat ini, tidak ada vaksinasi yang tersedia untuk virus corona dan para ahli kesehatan tidak ingin vaksin tersebut tersedia untuk umum dalam waktu yang lama. Diperlukan langkah langkah intensif dan disrupsi sosial untuk "menekan transmisi ke level rendah," menurut profesor Neil Ferguson dari Imperial College London. "Kemungkinan langkah langkah seperti itu terutama social distancing dalam skala besar perlu dilakukan selama berbulan bulan, mungkin sampai vaksin tersedia," kata Ferguson dalam laporan yang diterbitkan 17 Maret.

Pada laporan yang sama, para ilmuwan di Imperial College London memperkirakan perlu waktu hingga 18 bulan, setidaknya, untuk menemukan vaksin COVID 19. WHO telah menekankan perlunya warga negara untuk mengambil tindakan kolektif. Badan kesehatan telah mendorong orang di seluruh dunia menerapkan berbagai tindakan higienis.

Satu lagi yang disebut solusi untuk pandemi virus corona dapat terjadi ketika banyak orang telah mengembangkan kekebalan terhadap wabah melalui infeksi. Konsep kontroversial ini dikenal sebagai "herd immunity" atau "kekebalan kelompok." Herd immunity sedang diterapkan di Swedia, dan tampaknya diberlakukan di Inggris dan Belanda sebelum kedua negara mengubah pendekatan mereka.

Baik Inggris dan Belanda mengingatkan metode ini kemungkinan akan membanjiri sistem kesehatan dan meningkatkan jumlah kematian. Sebaliknya, WHO telah berulang kali menekankan pentingnya "meratakan kurva" untuk mengatasi pandemi. Gagasan meratakan kurva adalah untuk menekan jumlah kasus baru dalam periode yang lebih lama, sehingga orang memiliki akses lebih baik ke perawatan medis.

Berikut data terakhir 10 negara dengan jumlah kasus terbanyak di Dunia: 1. China 81.218 kasus, 3.281 kematian, dan 73.650 orang sembuh. 2. Italia 74.386 kasus, 7.503 kematian, dan 9.362 sembuh

3. Amerika Serikat 65.527 kasus, 928 kematian, dan 9.362 sembuh. 4. Spanyol 49.515 kasus, 3.647 kematian, dan 5.367 sembuh. 5. Jerman 37.323 kasus, 206 kematian, dan 3.547 sembuh.

6. Iran 27.017 kasus, 2.077 kematian, dan 9.625 sembuh. 7. Perancis 25.233 kasus, 1.331 kematian, dan 3.900 sembuh. 8. Swiss 10.897 kasus, 153 kematian, dan 131 sembuh

9. Inggris 9.529 kasus, 465 kematian, dan 135 sembuh. 10. Korea Selatan 9.137 kasus, 126 kematian, dan 3.730 sembuh

Berita Terkait

Cara Mudah Menghilangkan Bekas Luka Bakar Menggunakan Lidah Buaya & Madu

Nurofia Fauziah

Usai Operasi, Dorce dan Rano Karno Jauhi Santan, Ungkap Faktanya untuk Kesehatan, Baik atau Buruk?

Nurofia Fauziah

Tindakan Medis buat Pasien Terjangkit Hanya Supportif Obat buat Virus Corona Belum Ada

Nurofia Fauziah

Persiapan BPJS Kesehatan Tanggapi Sri Mulyani yang Enggan Jadi Pembayar Pertama Tunggakan

Nurofia Fauziah

Tiga Warga Kota Bekasi Suspect Difteri

Nurofia Fauziah

Berlokasi di dekat Lokasi Wisata, RSUD Bali Mandara Banyak Layani Warga Negara Asing

Nurofia Fauziah

Dermatitis Atopik yang Diderita Baby Ryu karena Colekan Tamu, Tisu Basah Bisa Jadi Pemicunya?

Nurofia Fauziah

Hindari Minum Kopi Kalau Tak Ingin Dehidrasi Cuaca Panas

Nurofia Fauziah

Hindari Kena Mulut Trik Menggunakan Disinfektan yang betul & Mata Hidung Pakar Toksikologi UI

Nurofia Fauziah

Konsumsi Buah-buahan hingga Sayuran 5 Makanan yang Membantu Anda Berhenti Merokok

Nurofia Fauziah

10 Buah dan Sayur Ini Mampu Turunkan Kolesterol Usai Idul Adha: Pepaya, Wortel hingga Seledri

Nurofia Fauziah

Penemuan Mengubah Dunia yang Sudah Ada Sejak 1966 Sejarah Hand Sanitizer

Nurofia Fauziah

Leave a Comment